Senin, 22 Juli 2013

Pergulatan Batin Sang Penyelam

Pergulatan Batin Sang Penyelam

Rabu, 11 Mei 2011 | 05:32 WIB
KOMPAS/TIMBUKTU HARTHANA
Tim gabungan penyelam dari Polisi Air, Basarnas, PMI, TNI AL, dan Conservation International Indonesia mencari ruang kemudi pesawat Merpati MA-60, Selasa (10/5), yang jatuh di perairan Kaimana, Papua Barat, Sabtu lalu.
Oleh Timbuktu Harthana dan A Ponco Anggoro
Pasang surut di perairan Kaimana tak memengaruhi semangat para sukarelawan untuk menelisik dasar laut Tanjung Simora, Kaimana, Papua Barat. Merekalah tumpuan harapan bagi keluarga korban jatuhnya pesawat Merpati M-60.
Cuaca cerah, Selasa (10/5) siang, memacu adrenalin para penyelam menggeledah dasar laut. Target mereka adalah cockpit (ruang kemudi) pesawat buatan China yang keberadaannya masih misterius setelah jatuh di dekat Bandara Utarom, Kaimana, Sabtu lalu.
”Saya lihat cockpit-nya. Posisinya terbalik, rodanya menghadap ke atas. Tetapi entah, ada orang di dalamnya atau tidak,” ujar Devy Pada (28), yang menyembul dari dalam laut di Tanjung Simora.
Bergegas, penyelam lainnya, Jerry, yang membawa kamera bawah air, menceburkan diri ke dalam laut. Tak sampai 15 menit, Jerry muncul dengan membawa hasil jepretan foto-foto moncong pesawat yang terbenam di kedalaman hampir 20 meter. Meski hasil sedikit buram karena dasar laut dipenuhi lumpur halus, foto-foto itu menguak titik terang. Setidaknya menjadi bukti kuat bahwa bagian kepala pesawat terbang yang dicari-cari selama dua hari terakhir bisa ditemukan.
Selanjutnya, untuk memastikan apakah jenazah pilot Purwadi Wahyu dan kopilot Paul Nap benar-benar ada di ruang kemudi, beberapa penyelam terjun kembali ke dasar laut. Mereka melihat dan meraba benda-benda yang ditemukan itu. Dipastikan, kedua jenazah masih tersangkut di ruang kemudi.
Upaya mengeluarkan kedua jenazah dari ruang kemudi bukanlah perkara mudah. Patahan kerangka pesawat menutup akses masuk ke ruang cockpit. Selain itu, robekan dinding pesawat yang membentuk ujung- ujung runcing turut membahayakan penyelam. Celah-celah yang terbuka pun terlalu sempit untuk diterobos penyelam yang membawa tabung oksigen.
”Kami mencoba menarik jenazah pilot dan kopilot yang terjepit di bagian pinggang ke atas, tetapi sulit sekali,” ujar Ipda Hemry, Kepala Polisi Subsektor Koordinator Pengawasan dan Pengamanan Pelabuhan Kaimana, yang ikut menyelam.
Karena hari kian gelap dan cuaca mendung, pencarian dan evakuasi yang berjalan sekitar 4,5 jam kemarin diakhiri sekitar pukul 17.30 petang. Akhirnya, 21 penyelam tim gabungan dari Polisi Air, Basarnas, PMI, TNI, dan Conservation International Indonesia naik ke perahunya masing-masing.
Pemandangan jenazah yang terapung dan terpuruk di dasar laut adalah panorama yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini dinikmati oleh Devy dan Yaser Fauzan (28). Penyelam dari Conservation International Indonesia tersebut sudah terbiasa dengan keindahan alam bawah laut, terumbu karang, dan aneka satwa laut.
Sejak Sabtu sore pekan lalu, untuk sementara mereka melupakan dulu keindahan bawah laut. Kali ini, mereka harus mencari 25 penumpang dan awak dalam pesawat Merpati yang jatuh beberapa menit sebelum mendarat dalam rute Sorong-Kaimana.
Mencari jenazah, kata Yaser, adalah pengalaman pertamanya. Bahkan, bisa jadi pengalaman pertama bagi semua penyelam yang membantu proses evakuasi jenazah. Tanpa persiapan khusus, dia bersama tujuh penyelam yang ada saat itu langsung nyemplung ke laut. Mereka hanya berbekal keberanian dan tekad untuk mencari korban pesawat. ”Ada perasaan ngeri dan takut. Tetapi, bagaimana lagi,” katanya melukiskan pergulatan batin mereka.
Perang batin
Kegelisahan berburu jenazah di laut juga dirasakan Martinus Febrian (25), penyelam dari SAR Sorong. Rasa takut kerap menyergap. Maklum, kali ini yang mereka cari bukanlah material berupa barang-barang, tetapi jasad. Mereka harus menentukan pilihan dengan cepat: menyelamatkan barang atau jasad korban.
Saat menemukan 2 potongan kaki, secara tak sengaja Martinus menemukan flight data recorder. Untuk membawaya ke permukaan tak mudah karena berat. ”Saya minta teman membawa potongan kaki itu, tetapi malah dilepaskannya karena ragu untuk memegangnya. Akhirnya, yang bisa dibawa hanya kotak hitam,” ungkap Martinus.
Kondisi jasad korban yang tidak lagi utuh membuat penyelam ini sedikit ”risih”. Sebisa mungkin, mereka mengangkat jenazah tanpa menyentuh tubuhnya. Sebab, selain rasa ngeri bercampur takut, mereka menghindari risiko terpapar kuman dan bakteri dari jasad yang sudah 2-3 hari terbenam di dasar laut.
Bukan hanya bertarung dengan rasa takut, para penyelam juga berhadapan dengan risiko terseret arus atau bertabrakan dengan puing-puing bangkai pesawat. Pasalnya, dasar laut di Tanjung Simora sedalam 12-20 meter itu keruh oleh lumpur. Jarak pandang di dalam laut yang hanya 0,5-1 meter menyulitkan upaya pencarian korban.
Devy mengaku harus ekstra hati-hati. Jangan sampai tertabrak puing pesawat yang terseret ombak.
Karena itu, penyelam selalu terjun bersama. Minimal, seorang penyelam ditemani satu penyelam lain.
Meski menyelam bersama, ketika di dalam laut, satu tim sering kali terpisah karena terganggu lumpur halus yang membuat mereka sulit melihat. Tali-tali yang diikatkan agar mereka tak tersesat dan terseret arus tak berfungsi maksimal.
Arus bawah dan permukaan luat di lokasi jatuhnya pesawat itu 0,45 meter per detik. Jika tak awas, penyelam bisa terseret jauh dari lokasi pencarian.
”Never dive alone,” itulah prinsip mereka.


 sumber.kompas.com
di tayangkan ulang oleh : dr.Erick Supondha (hyperbaric& diving medicine consultant) hiperbarik oksigen terapi >RS bethsaida , jakarta indonesia, (dokter hiperbarik/ahli hiperbarik/dokter kesehatan penyelaman)
021 99070050